Dewan Kesenian Jakarta mengingatkan dan mengutuk tindakan yang menghalang-halangi setiap usaha historis untuk pembuka tabir gelap dalam sejarah. Tugas membuka tabir sejarah tidak bisa lagi dibaca sebagai “dendam sejarah lama”. Melainkan karena sangat menentukan bagaimana kita mendefinisikan identitas bangsa kita yang memang beragam dan menjadi kuat justru karena keberagaman. Juga karena memang itulah artinya sejarah. Cara pandang yang tetap mempertahankan pandangan tunggal dalam melihat sejarah, berarti memperlihatkan adanya kelompok dalam masyarakat yang tetap ingin bangsa kita tumbuh dalam “sejarah yang buta”, membiarkan trauma sejarah tetap tumbuh dan menghasilkan disorientasi identitas maupun aksi-aksi yang penyebaran maupun bentuknya kian sulit dipahami, dan membiarkan lahirnya generasi-generasi baru yang hidup dalam ruang alien sejarah. Bentuk kekuasaan seperti ini pada gilirannya bisa kita curigai bahwa merekalah yang akan menguasai nilai-nilai tunggal di negeri kita, artinya menguasai negeri kita atas nama nilai-nilai yang mereka paksakan secara sepihak.

Hal yang sama dalam melihat wacana LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender). Pelarangan untuk membaca, memahami dan mengenali setiap fenomena LGBT sangat menghambat masyarakat untuk mengerti akar kompleksitas persoalan LGBT yang tidak semata-mata bersifat agama, sekaligus memperlihatkan kepentingan pihak-pihak yang melarang agar masyarakat tetap tidak memiliki atau dipaksa memiliki hanya satu pandangan mengenai akar kompleks di sekitar wacana ini.

Kedua tema di atas, yang satu terkait dengan latar peristiwa sejarah 1965, satunya lagi wacana LGBT, merupakan dua tema yang diusung dalam salah satu program dari ratusan program dalam “The 3rd¬†ASEAN Literary Festival 2016″ yang sedang berlangsung (5-8 Mei 2016) diselenggarakan di beberapa lokasi di Taman Ismail Marzuki. Program ini tidak lagi semata-mata berurusan dengan masyarakat Indonesia, melainkan masyarakat dunia. Karena itu juga pelarangan terhadap program “The 3rd¬†ASEAN Literary Festival 2016″ yang berkaitan dengan tema di atas, sangat mempermalukan kesadaran sejarah bangsa kita terhadap sejarah kita sendiri di mata dunia.

Dengan dasar berpikir di atas, kami, Dewan Kesenian Jakarta menyatakan:

  1. Tetap mendukung seluruh program “The 3rdASEAN Literary Festival 2016″ yang sedang dijalankan, karena kita menghargai semua lapisan publik yang mau melibatkan diri ke dalam proses berdemokrasi dan perwujudan hak berekspresi.
  2. Agar sastrawan, seniman, dan masyarakat pada umumnya tetap memelihara akal sehat dalam menghadapi berbagai provokator sejarah yang terus bergerak agar kita tetap hidup sebagai bangsa yang “buta sejarah”
  3. Mengingatkan para pihak pelarang untuk menghentikan dan tidak menggunakan pengatasnamaan agama maupun alasan keamanan untuk melarang setiap tindakan mempelajari kondisi yang berakar dalam masyarakat.

 

Jakarta, 5 Mei 2016