Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Rabu 5 November 2025 malam, padat oleh calon penonton Malam Anugerah Sayembara Novel DKJ 2025. Malam itu bukan sekadar seremoni penyerahan piala, melainkan sebuah perayaan tentang ketekunan.
Setengah abad sudah, Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menjadi saksi bisu bagi ribuan jemari yang mengetikkan kegelisahan, cinta, dan kritik di atas kertas.
Tahun 2025 ini menjadi sangat istimewa, ada sesuatu yang mengharukan dalam angka-angka. 792 naskah mendarat di meja juri untuk dinilai. Bayangkan, ada hampir delapan ratus manusia yang meluangkan waktu, menguras emosi, dan memberanikan diri mengirimkan dunianya untuk dibaca. Ini adalah rekor submisi terbanyak sepanjang sejarah, sebuah bukti bahwa di tengah riuhnya dunia digital, keinginan manusia untuk bercerita lewat novel masih menyala dengan hebatnya.
Sambutan Hasan Aspahani selaku Wakil Ketua Harian 1 DKJ dan Fadjriah Nurdiasih, Ketua Komite Sastra DKJ, membuka perayaan tersebut. Keduanya menyampaikan cerita perjalanan panjang Sayembara Novel DKJ selama 50 tahun serta harapan-harapan ke depan.
Denting piano dari Frau kemudian membawa penonton larut dalam ruang interaktif yang intim, seolah merayakan setiap kata yang pernah lahir dari rahim sayembara ini.
Catatan Dewan Juri
Keberagaman yang muncul di Sayembara Novel DKJ 2025 pun lebih mencuat. Wajah Indonesia yang luas, dari riuhnya Jawa Timur hingga sunyinya Papua, terlihat. Bahkan, gema dari mereka yang sedang merantau di Istanbul hingga Italia, terdengar.
Secara rinci, dewan juri mengungkap dari hampir 800 naskah, mayoritas berasal dari Pulau Jawa (276 pendaftar), diikuti Jawa Timur (160 pendaftar), dan Jawa Tengah (143 pendaftar). DKI Jakarta menyusul dengan 121 pendaftar yang memperlihatkan masih kuatnya posisi Ibu Kota sebagai pusat produksi dan distribusi kebudayaan. Pulau lain seperti Sumatra, Nusa Tenggara, Papua, dan Sulawesi juga turut menyumbang partisipasi meski sedikit jumlahnya. Ada pula ekspansi partisipasi global dari Australia, Hongkong, Istanbul, Italia, Jepang, Jerman, Thailand, dan Timor Leste.
Selain itu, sayembara kali ini memberi ruang bagi siapa saja, tanpa memandang sekat gender, memberikan tempat bagi setiap identitas untuk bicara dengan jujur melalui karya.
Ketiga dewan juri, Oka Rusmini, Harry Isra, dan Ramayda Akmal, berdiri bukan sebagai hakim yang kaku, melainkan sebagai pembaca yang tekun. Mereka mengungkapkan kekaguman atas keberanian para penulis tahun ini yang mencoba “mendobrak” cara bercerita yang lama. Ada naskah yang bermain dengan visual, ada yang mengolah bahasa dengan cara yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Bagi juri, naskah-naskah ini adalah pertemuan antara bentuk yang indah dan isi yang punya jiwa.
Pada puncak acara, nama-nama pemenang dibacakan sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras mereka. Pemenang pertama, Superbia O karya Fajar Satriyo. Pemenang kedua, KARMILA, Cerita-Cerita Menjadi Dewasa dari Sendangan oleh Dadang Ari Murtono. Pemenang ketiga, Dor! Dor! Dor! oleh Ahmad Muttagin.
Tak hanya mereka, karya lima penulis yang “Menarik Perhatian Juri” dan tujuh penulis “Layak Bimbingan” juga memiliki tempat khusus di hati para juri.
Naskah Menarik Perhatian Dewan Juri:
- Majalah Garpu Lima Puluh Tujuh Tahun karya Svawal Pebrian
- Tuan Tapa Tuan oleh Jantan Putra Bangsa
- Kariyau Sunyi oleh Azhar Rivadi
- Hidup Seumur Jagung oleh Fahmi Sidik Marunduri
- Museum Kepada Yang Lupa oleh Wawan Kurniawan
Naskah Layak Bimbingan:
- Cara Menjadi Pohon karya Wisnu Suryaning Adji Sumarwan
- Hikayat Cinta Tanpa Kepala karya Awi Chin (Agung Wijayanto)
- Sumatrabhumi (Rimba Purba) karya Junaydy Michael Angelo Ginting
- Rukmini dan Perkara-Perkaranya karya A. Djoyo Mulyono
- Semesta Tukang Cukur Keliling karya Carolina Ratri
- Habis Gelap, Terbitlah Lubang Hitam karya Yovantra Arief
- Naskah Sabda Naga Sarpa karya Sinta Yudisia Wisudanti
Menumbuhkan Karya, Bukan Sekadar Menang
Hal yang paling humanis dari sayembara tahun ini adalah keberlanjutannya. DKJ tidak membiarkan para penulis pulang hanya dengan piala. Menggandeng Manajemen Talenta Nasional, Komite Sastra DKJ menggelar program coaching clinic selama tiga hari di TIM, ke-15 penulis di Sayembara Novel DKJ 2025 diajak duduk bersama para pakar. Ini adalah momen “berguru” dan berbagi, sebuah laboratorium di mana karya-karya tersebut akan dipupuk dan dirawat bersama agar lebih matang sebelum nantinya menyapa pembaca di toko-toko buku.
(Hana)
