Sudahkah sistem kesenian berjenjang di Jakarta berjalan baik? Atau masih ada kendala yang belum terselesaikan? 

Melalui Program Meja Bundar #2, Dewan Kesenian Jakarta mencoba mengidentifikasi hal tersebut. Melalui  pentingnya festival  pelatihan, dan ruang-ruang kreatif DKJ ingin mengupas bagian- bagian dari proses pembentukan regenerasi seniman, perluasan akses berkesenian, serta penguatan ekosistem seni yang inklusif dan berkelanjutan.

Dalam diskusi ini, istilah kesenian berjenjang dipahami melalui dua sudut pandang yang berbeda. 

Rusmantoro menjelaskan konsep kesenian berjenjang tercermin dalam berbagai program pembinaan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, salah satunya Festival Teater Jakarta yang menjadi salah satu program tertua dan berkesinambungan. Program tersebut dirancang sebagai sistem pembinaan bertahap yang memungkinkan regenerasi seniman berlangsung secara berkelanjutan.

Sementara itu, Hikmat Darmawan memaparkan pengamatannya terhadap ekosistem kesenian Jakarta dari sudut pandang praktisi. Ia menyoroti bahwa alur pembinaan, pilihan acara, serta kapasitas ekosistem seni sering kali tidak berjalan secara optimal. Dalam kondisi tertentu, kegiatan seni berpotensi bergeser menjadi sekadar tontonan hiburan, tanpa proses kuratorial dan pembinaan yang memadai untuk mendorong pertumbuhan artistik jangka panjang.

Secara umum, Jakarta memiliki sistem pembinaan seni yang bertingkat melalui festival, kompetisi, lokakarya, dan berbagai program pengembangan lainnya. Seluruh elemen ini seharusnya saling terhubung untuk membangun ekosistem yang sehat dan membuka ruang regenerasi bagi pelaku seni lintas generasi.

Meja Bundar kedua tahun ini berlangsung dalam dua sesi. Pada sesi kedua, diskusi difokuskan pada gagasan bahwa pertumbuhan sebuah kota tidak hanya diukur dari pembangunan infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga dari indeks berkesenian yang tercermin melalui aktivitas dan keberlanjutan kegiatan kebudayaan.

Dewan Kesenian Jakarta berperan penting dalam mengidentifikasi apakah sistem kesenian berjenjang di Jakarta telah berjalan dengan baik atau masih menghadapi berbagai kendala. DKJ juga mendorong kolaborasi dengan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta untuk memperjelas, memperkuat, serta mengevaluasi ekosistem seni yang ada.

Melalui Program Meja Bundar, DKJ menegaskan pentingnya festival, pelatihan, dan ruang-ruang kreatif sebagai bagian dari proses pembentukan regenerasi seniman, perluasan akses berkesenian, serta penguatan ekosistem seni yang inklusif dan berkelanjutan. 

Diskusi ini diharapkan mampu memproyeksikan potensi ekosistem seni Jakarta sekaligus merumuskan strategi agar Jakarta tumbuh sebagai kota yang tidak hanya maju secara fisik dan ekonomi, tetapi juga kaya akan kehidupan seni dan kebudayaan yang beragam.

Tentang Meja Bundar #2

Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menyelenggarakan Diskusi Meja Bundar pada tahun 2025 dengan mengangkat tema “Kesenian Berjenjang di DKI Jakarta: Menjaga Ekosistem Seni di Jakarta.” Diskusi ini menjadi ruang refleksi dan pertukaran gagasan mengenai bagaimana sistem kesenian yang berjenjang dapat berperan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem seni di ibu kota, mulai dari festival, perlombaan, hingga ruang pembinaan seni.

Melalui Komisi Riset & Kebijakan, DKJ menjadikan Meja Bundar sebagai upaya strategis dan berkelanjutan untuk memperkaya wacana kebudayaan sekaligus memperkuat relasi antar pemangku kepentingan seni. Forum ini dirancang sebagai ruang dialog yang mendorong kolaborasi konstruktif antara pemerintah, seniman, kurator, dan pelaku seni lintas disiplin.

Diskusi berdurasi dua jam ini menghadirkan sejumlah narasumber dengan latar belakang dan perspektif yang beragam, antara lain Rusmantoro selaku Kepala Bidang Pembinaan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta; Hikmat Darmawan, produser film sekaligus kurator dan mantan Anggota Komite Film DKJ periode 2015–2023; Gie Sanjaya, kurator independen dan pendiri Kids Biennale; Wiwik HW, koreografer; serta Madin Tyasawan, pelaku teater.

Simak isi diskusi lengkapnya  di YouTube Dewan Kesenian Jakarta