Asrul Sani: Puisi Gigantis dan Cerpen Rumah
Dalam salah satu esainya mengenai puisi Angkatan 45, atau dengan kata-katanya disebut sebagai “generasi saya sendiri”, Asrul Sani menulis: “Kita harus sampai pada puisi ‘gigantis’
Dalam salah satu esainya mengenai puisi Angkatan 45, atau dengan kata-katanya disebut sebagai “generasi saya sendiri”, Asrul Sani menulis: “Kita harus sampai pada puisi ‘gigantis’
Barangsiapa tidak melawan kelampauan, maka dia akan hancur. (Gafar, dalam Lewat Djam Malam (1954)) Masa lalu adalah ingatan. Sekerumunun bayang-bayang yang selalu mencoba datang. Dalam
Warisan terbesar dari seseorang yang mendera dirinya untuk mencapai wilayah jelajah begitu luas adalah peta yang jauh dari selesai. Ini selalu seperti kutukan kartografi, sejak
ASRUL SANI adalah dosen saya ketika saya studi di ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia) tahun 1968. Yang paling menarik perhatian saya adalah sikap para dosen
The 7th Women Playwrights International Conference Indonesia, November 2006. Dear participants and distinguished guests, Welcome to Jakarta and Indonesia! Jakarta Arts Council is honoured to
Jakarta, 17 Desember 2006 Kawan-kawan dunia teater yang saya hormati, Setelah 10 hari kita berkumpul, menonton dan ditonton, berdiskusi, kita merasakan keyakinan, tanpa keraguan lagi,