Kurangnya media kritik yang baik adalah salah satu persoalan berlarut dalam ekosistem sastra Indonesia. Padahal, kritik sastra tidak bisa ditiadakan dari upaya mengembangkan sastra. Kritik sastra adalah upaya memetakan gejala apa yang sedang ada dan apa yang sudah dicapai dalam kerja-kerja kreatif di ranah sastra, terutama dengan menimbang situasi yang telah berubah selama dua dasawarsa terakhir.
Kritik sastra jelas diperlukan untuk menilai sejauh mana sastra Indonesia telah berkembang, memberi jembatan antara karya sastra dan penulisnya dengan pembacanya, mengambil peran yang penting dalam perjalanan bangsa, serta memetakan bagaimana perkembangan karya sastra mutakhir telah memberikan dampak dan pengaruh yang luas dalam sejarah Indonesia. Buku Korrie Layun Rampan, Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia, terbilang sebagai karya terakhir yang mencatat suatu generasi sastra Indonesia.
Guna turut memperkuat tradisi kritik sastra Indonesia, sekaligus menyediakan ruang pembacaan, pembahasan, dan pemetaan karya sastra secara sistematis dan berkualitas, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) melalui Komite Sastra kembali menggelar Sayembara Kritik Sastra DKJ 2026 dengan mengusung tema “Pemetaan Sastra Kontemporer Sejak Tahun 2000”.
Sayembara Kritik Sastra DKJ telah diselenggarakan sejak 2007. Terakhir, pada 2024, DKJ mengangkat tema “Satirisme AA Navis” dalam rangka memperingati 100 tahun kelahiran AA Navis, yang menghimpun 166 naskah kritik dari berbagai daerah di Indonesia. Antusiasme tersebut menegaskan kritik sastra tetap menjadi medan penting dalam perkembangan ekosistem sastra nasional.
Naskah-naskah terpilih secara berkala dipublikasikan melalui Tengara.id, jurnal/majalah kritik sastra daring milik Dewan Kesenian Jakarta yang menyemarakkan diskursus sastra Indonesia hari ini.
Pada 2026, Komite Sastra DKJ kembali mengundang para peminat dan kritikus sastra untuk berpartisipasi, mengirimkan naskah kritik terbaiknya. Berikut kriteria, syarat dan ketentuan yang berlaku:
Kriteria Penilaian Naskah
Kepengrajinan: sejauh mana naskah memperlihatkan sifat-sifat esai sastrawi yang memikat sekaligus bertumpu pada argumentasi yang kokoh dan bukti-bukti yang terperinci—bukan makalah akademis yang cenderung formalistik dalam bentuk dan sistematika penulisan.
Kebaruan: sejauh mana naskah menawarkan pemaknaan baru atas Sejarah dan perkembangan sastra Indonesia modern.
Keterbacaan: sejauh mana naskah dituliskan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik sehingga dapat dimengerti dengan jelas ide-ide penulisannya.
Topik Prioritas
- Periodisasi dan Kanonisasi Sastra Indonesia
Fokus utama: membaca perkembangan sastra Indonesia terutama setelah masa Reformasi. Perkembangan sastra Indonesia mutakhir terbilang menggembirakan dan memerlukan pembacaan mendalam (baik pembacaan dekat maupun pembacaan jauh).
Isu yang dapat dipilih:
- Apakah ada pergeseran tema dominan (terkait identitas, trauma politik, urbanisasi, gender, ekologi, diaspora) dalam karya-karya sastra Indonesia mutakhir?
- Dapatkah sastra Indonesia setelah Reformasi dibagi dalam periode tertentu (misalnya, Reformasi awal, era media sosial, era platform digital)?
- Siapakah penentu kanon sastra hari ini dan apakah kanonisasi sastra masih relevan?
- Otoritas Kritikus Sastra dan Produksi Penilaian Sastra
Fokus utama: membaca legitimasi kritikus sastra di tengah era demokratisasi sastra (era media sosial dan platform digital, dengan adanya banyak jenis karya sastra baru di platform digital).
Isu yang dapat dipilih:
- Apakah kritik sastra mengalami krisis otoritas?
- Siapa yang berhak menjadi kritikus sastra hari ini? Apakah komentar-komentar di media sosial dan ulasan oleh Blogger dan platform digital serta siniar (podcast) dapat menjadi pertimbangan sebagai sebuah kritik sastra?
- Bagaimana posisi kritikus independen, akademisi pengulas di media sosial, serta pembaca pada hari ini dapat memberi penilaian kepada karya sastra?
- Perlukah karya sastra hari ini dibahas “secara serius”? Apa indikator dari pembacaan yang serius terhadap suatu karya sastra?
- Definisi Sastra Indonesia: Bahasa, Wilayah, dan Penjaga Gawang alias “Gatekeeping”
Fokus utama: batas konseptual sastra Indonesia.
Isu yang dapat dipilih:
- Apakah sastra Indonesia harus berbahasa Indonesia?
- Di manakah posisi karya diaspora, bilingual, penulis Indonesia yang menulis dalam bahasa asing di tengah perkembangan masyarakat global/diaspora di era digital saat ini?
- Apakah karya sastra Indonesia berbasis bahasa, kewarganegaraan, pengalaman sejarah, atau jaringan pembaca?
- Pembacaan Dekat sekaligus Pembacaan Jauh atas Karya Sastra Indonesia Mutakhir
Fokus utama: Globalisasi dan transformasi estetika sastra Indonesia mutakhir dalam interaksi lokal-global
Isu yang dapat dipilih:
- Bagaimana pengaruh residensi internasional, festival skala internasional, dan penerjemahan karya sastra terhadap “pengenalan” karya sastra Indonesia mutakhir?
- Genre global yang tengah berkembang pesat di antaranya speculative fiction, autofiction, eco-literature/climate fiction, dan penulisan queer. Karya-karya apa saja yang dominan dalam genre ini yang tengah beredar di industri perbukuan negeri ini?
- Apakah ada perubahan gaya naratif akibat budaya internet, budaya fandom, ataupun serialisasi daring?
- Apakah globalisasi menghasilkan juga homogenisasi standar estetika dalam perkembangan sastra Indonesia mutakhir?
Ketentuan Umum
- Mengisi formulir pendaftaran melalui tautan daring: https://bit.ly/formskritiksastra2026
- Peserta dapat mengirimkan lebih dari satu naskah.
- Naskah belum pernah dipublikasikan atau dipresentasikan dalam versi utuh.
- Naskah tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara atau forum serupa.
- Naskah merupakan karya asli, bukan terjemahan, saduran, atau plagiat.
Ketentuan Khusus
- Panjang naskah maksimal 10.000 kata.
- Format penulisan:
- Ukuran kertas A4
- Spasi 1,5
- Font Calibri ukuran 12
- Peserta adalah Warga Negara Indonesia, dibuktikan dengan menyertakan salinan tanda pengenal (KTP/SIM) dalam file biodata.
- Nama penulis tidak dicantumkan dalam naskah. Biodata ditulis dalam file terpisah. Peserta tidak akan lolos seleksi administrasi apabila mencantumkan nama dalam naskah.
- Naskah dan biodata dikirim melalui email ke: skritiksastra.dkj26@gmail.com
- Format Email
Subjek:
Nama Lengkap_Judul Karya_SKSDKJ2026
Contoh: Saskia_Ada Pelangi Setelah Hujan_SKSDKJ2026
Format File Naskah (PDF):
Judul Karya_SKSDKJ2026
Contoh: Ada Pelangi Setelah Hujan_SKSDKJ2026
Format File Biodata (PDF):
Biodata_Nama_Judul Karya_SKSDKJ2026
Contoh: Biodata_Saskia_Ada Pelangi Setelah Hujan_SKSDKJ2026
Batas akhir pengiriman naskah: 15 Mei 2026.
Lain-lain
- Keputusan Dewan Juri bersifat final dan tidak dapat diganggu-gugat.
- Pajak hadiah ditanggung oleh pemenang.
- Sayembara ini tertutup bagi anggota DKJ Periode 2023–2026 dan keluarga inti Dewan Juri.
- Maklumat resmi dapat diakses melalui laman dkj.or.id.
- Dewan Juri terdiri atas sastrawan dan akademisi sastra.
- Pemenang akan diumumkan dalam Malam Anugerah Sayembara Sastra DKJ 2026 di Taman Ismail Marzuki pada 23 Juli 2026.
Hadiah
Juara I : Rp25.000.000
Juara II : Rp20.000.000
Juara III : Rp15.000.000
Lima Besar : Rp3.000.000
Hadiah belum dipotong pajak
Lini Masa
Februari 2026: Pengumuman lini masa sayembara
Maret-Mei 2026: Pengiriman naskah
15 Mei 2026: Tenggat pengiriman naskah
Mei-Juni 2026: Proses penjurian
23 Juli 2026: Malam Anugerah Sayembara Kritik Sastra 2026
