Dalam rangka merayakan 100 Tahun kelompok teater Dardanella, Dewan Kesenian Jakarta bersama Unit Pengelola Pusat Kesnian Jakarta (UPPKJ) Taman Ismail Marzuki (TIM) melaksanakan diskusi publik dan pementasan studi ‘Mait Idoep’, yang dilaksanakan pada Selasa, 23 Juni lalu, di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki.
Kelompok Teater Dardanella merupakan salah satu saksi sejarah panjang bagaimana rupa teater Indonesia mencoba mencari bentuknya. Memperingati 100 Tahun mereka bukanlah semata-mata untuk mengenang, lebih jauh, adalah dapat membaca kembali gagasan-gagasan yang ditinggalkan, bagaimana teater dapat menjadi medium yang dekat dengan masyarakat, juga bagaimana seni pertunjukan terus menemukan format baru, mengikuti perkembangan zaman
Melalui diskusi publik, pembacaan sejarah, hingga pementasan kembali naskah klasik ciptaan Kwee Tek Hoay ‘Mait Idoep’, DKJ lewat Komite Teater mengajak publik tidak hanya mengenang Dardanella sebagai kelompok sandiwara legendaris Indonesia, melainkan juga melihat bagaimana Dardanella terlibat dalam membentuk wajah teater Indonesia Modern.
Terdapat 2 agenda dalam program ini, yakni diskusi publik yang dipantik oleh Mathew Isaac Cohen (Akademisi), Elizabeth Lutters (Sutradara teater & penulis skenario), Dindon W.S. (Sutradara teater), dan 3 aktor yang memainkan pentas studi ‘Mait Idoep’.
Lewat perspektif sejarah, kajian akademik, hingga pengalaman praktik artistik, diskusi ini membuka ruang bagi publik untuk melihat Dardanella bukan hanya sebagai cerita nostalgia, melainkan bagian dari proses panjang mencari rupa seni pertunjukan teater Indonesia modern.
Tentang Dardanella dan Kampanye Kesehatan lewat Pementasan
‘Mait Idoep’ sendiri merupakan salah satu pertunjukan legendaris milik Dardanella yang merepresentasikan kehidupan realitas sosial masyarakat. Cerita yang ditulis oleh Kwee Tek Hoay pada 1931 ini mengangkat kisah mengenai kemunculan penyakit sipilis di Hindia Belanda, pada masa itu sipilis menjadi momok bagi kondisi sosial masyarakat.
Lewat pertunjukan itu, Dardanella mencoba untuk mengkampanyekan pesan terkait bahaya dan dampak sipilis terhadap kesehatan masyarakat, sebuah pertunjukan yang berupaya untuk mentransmisikan pengalaman lewat medium pertunjukan.
Andhini Putri, salah satu aktor pertunjukan studi Mait Idoep menceritakan bagaimana proses pendalaman karakter pada saat proses produksi. Ia mengakui terdapat kesulitan melakukan peran, bahasa naskah Mait Idoep yang masih menggunakan Bahasa Melayu, juga pementasan yang diisi oleh aktor dari pelbagai latar belakang berbeda menjadi hal yang menarik untuk disajikan.
“Mungkin itu yang menarik untuk ditonton. Pertunjukan studi ini memamerkan beberapa orang dari berbagai latar belakang yang sangat berbeda” ucap Andhini pada diskusi, Selasa, 23 Juni 2026.
Dengan menghadirkan ulang pertunjukan pentas studi Mait Idoep ke hadapan publik, DKJ berupaya untuk menghidupkan kembali bagaimana karya klasik dapat terus berdialog dengan konteks saat ini, sekaligus membuktikan bagaimana sejarah teater merupakan pengetahuan yang terus hidup lewat interpretasi yang baru.
Dardanella sendiri berdiri pada 21 Juni 1926 di mana kala itu kelompok sandiwara didominasi oleh budaya seni pertunjukan komedi Stambul, pertunjukan opera yang mengandalkan kemegahan kostum, nyanyian, tarian, dan cerita-cerita fantasi.
Pendekatan yang dilakukan oleh Dardanella berbeda dari kelompok sandiwara pada masanya, mereka mengubah tata cara dan drama pertunjukan stambul lewat dihilangkannya tarian, musik, juga mengganti humor komedi menjadi satire. Alih-alih mengangkat kisah 1001 malam yang lazim digunakan pada komedi stambul, Dardanella lebih tertarik untuk mengangkat kisah realitas sosial masyarakat yang ada.
Semangat Dardanella melalui kekuatan panggung dan pengalaman emosional penonton, membuktikan bagaimana teater dapat menjadi medium yang mampu menghadirkan persoalan sosial secara lebih dekat dan membekas.
Juga soal bagaimana keberanian Dardanella untuk membangun bentuk pertunjukan baru adalah spirit yang bisa dijadikan pembelajaran oleh masyarakat, di tengah perubahan teknologi, pola konsumsi budaya, dan cara baru menjangkau penonton.
Muhammad Ifqy Dzikrullah, pemeran lain dalam pentas studi Mait Idoep juga merasa senang ketika terlibat dalam proses kreatif pementasan studi Mait Idoep. Baginya, Dardanella merupakan salah satu kelompok sandiwara yang bisa dijadikan pelajar, bagaimana konsistensi Dardanella pada pertunjukan di setiap kota, hingga bagaimana keberhasilan mereka memanajemen tim adalah salah satu peninggalan yang positif bagi perkembangan seni teater Indonesia.
“Nah kita bisa ambil positive vibe grup mereka pada saat itu, kita membayangkan aja, kita mengimajinasikan aja setiap tur kota orangnya nggak pernah bosen, orangnya ini semangat-semangat” ujar Ifqy pada diskusi, Selasa, 23 Juni 2026.
Melalui rangkaian program 100 Tahun Dardanella, DKJ mengajak publik untuk membaca secarah bukan hanya sebagai perayaan masa lampau, melaikan sebagai ruang untuk membaca kembali bagaiman perkembangan teater Indoensai tidak lahir secara tiba-tiba, tetapi dibentuk oleh percobaan, juga keberanian para pelaku zaman untuk merumuskan bahasa pertunjukan yang sesuai dengan konteks zamannya.
Lebih jauh, berharap bahwa program ini juga dapat digunakan sebagai upaya membayangkan ulang akan bagaimana arah teater Indonesia ke depan.
(Malaika Putra Aryanto)


