Djakarta International Theater Platform (DITP) 2026 kembali hadir pada 5–8 Agustus 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Mengusung konsep kuratorial Bumantara: Men(citra) Niskala / Unseen (the) Map, DITP merupakan program yang diinisiasi Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) melalui Komite Teater dan diselenggarakan bersama Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta (UPPKJ) Taman Ismail Marzuki (TIM) serta Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta.

Menghadirkan kolaborasi artistik lintas negara melalui pertunjukan, DITP menjadi ruang temu bagi seniman dan ekosistem seni pertunjukan untuk bertukar pengalaman, pengetahuan, serta gagasan dalam membaca kompleksitas sosial-politik di tingkat internasional.

Soal Konsep Bumantara: Men(citra) Niskala

Untuk edisi 2025–2027, DITP mengadopsi konsep Bumantara sebagai kompas kuratorialnya. Bumantara merupakan gagasan tokoh budayawan sekaligus intelektual Indonesia, Sutan Takdir Alisjahbana (STA), yang diperkenalkan pada 1975 di tengah dinamika geopolitik Asia Tenggara dan ketegangan Perang Dingin. Dengan menggabungkan kata “Bumi” dan “Antara”, gagasan ini berupaya melihat Asia Tenggara sebagai entitas geopolitik yang dinamis.

Berangkat dari gagasan tersebut, DKJ berupaya menavigasi koneksi dan kolaborasi lintas disiplin artistik, batas negara, serta imajinasi budaya. Wilayah Asia Tenggara tidak dipandang sebagai entitas geopolitik yang kaku, melainkan sebagai ruang “antara” tempat berbagai pengalaman dan kebudayaan dapat bertemu, bernegosiasi, dan saling memengaruhi.

Melalui tema “Mencitra Niskala / Unseen (the) Map, DITP mempertanyakan kembali cara manusia memetakan dan memahami dunia yang kerap direduksi oleh batas wilayah, identitas, data, maupun algoritma. “Antara” kemudian dipahami sebagai ruang aktif untuk mempertemukan berbagai pengalaman tanpa terjebak pada dikotomi seperti Barat–Timur atau tradisi–modernitas.

buku program DITP

Buku program Djakarta International Theater Platform 2026 yang dibagikan ke para pengunjung

Dalam kerangka tersebut, teater ditempatkan sebagai “kartograf baru” yang mampu menghasilkan pengetahuan melalui tubuh, ruang, memori, alam, serta relasi antarmanusia dan entitas lain. Seni tidak diposisikan sebagai jawaban atas berbagai krisis, melainkan sebagai ruang untuk mempertanyakan kembali peta dan cara pandang yang telah mapan. Melalui teater, DITP membuka kemungkinan untuk melihat realitas dan membayangkan masa depan dari perspektif yang selama ini luput atau tidak terlihat.

DITP dan Upaya Menghidupkan Percakapan Internasional

Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan melalui berbagai program DITP 2026. Dalam format Staging, misalnya, hadir Runsmitter Club dari Indonesia, Dracom dari Jepang, Jean-Baptiste Phou dari Kamboja, serta Rokateater dari Indonesia.

Selain itu, terdapat Proposisi yang menghadirkan Her Lab Space dari Taiwan, Lab Inkubasi Keproduseran Kelola dari Indonesia, serta Evgeniya Melkonyan dari Ukraina. Sementara Eksposisi melibatkan Bangkok International Performing Arts Meeting dari Thailand, Sino dari Jepang, Precog, hingga Reka Kelola.

Pertemuan tersebut menunjukkan bahwa DITP tidak hanya menjadi ruang untuk mempertontonkan karya dari berbagai negara. Di dalamnya terdapat proses pertemuan yang memungkinkan seniman membawa pengalaman, cara kerja, dan konteks kebudayaan masing-masing untuk kemudian dipertukarkan dan dikembangkan bersama.

 Staging

Penampilan Staging Rokateater dalam Djakarta International Theater Platform 2026

Dengan demikian, hubungan yang dibangun DITP tidak berhenti pada pertunjukan, tetapi turut memperluas jejaring dan pengetahuan antara ekosistem seni pertunjukan Indonesia dengan dunia. Teater menjadi medium untuk mempertemukan berbagai cara pandang, sekaligus membuka percakapan mengenai persoalan sosial-politik yang melampaui batas geografis.

Lewat kurator Rebecca Kezia dan Fathun Karib, DITP 2026 menunjukkan bahwa fungsi kesenian tidak berhenti sebagai wahana hiburan. Lebih jauh, pertemuan artistik lintas negara dapat menjadi bagian dari diplomasi budaya sekaligus ruang untuk meninjau kembali batas-batas geografis dan identitas yang selama ini dianggap tetap.

Lahirnya DITP hingga Proyeksi Jakarta sebagai Kota Global

Gagasan mengenai platform ini sebetulnya telah tumbuh sejak 2017, ketika program tersebut masih bernama Djakarta Theater Platform (DTP). DTP merupakan inisiatif Komite Teater DKJ yang ditujukan untuk menghidupkan ekosistem teater, khususnya di Jakarta.

Kala itu, kebutuhan akan ruang belajar dan laboratorium eksperimen teater menjadi salah satu titik mula kehadiran DTP. Seniman Afrizal Malna, yang juga pernah menjadi anggota Komite Teater DKJ periode 2015–2018, merupakan salah satu inisiator program tersebut.

DTP sempat absen pada 2019–2022 akibat pandemi COVID-19. Program ini kemudian hadir kembali pada 2023 dengan skala yang lebih luas dengan skala internasional, sekaligus berganti nama menjadi Djakarta International Theater Platform.

Perubahan tersebut tidak sekadar mengubah nama, tetapi juga memperluas fungsi platform. Dari ruang pengembangan ekosistem teater di Jakarta, DITP berkembang menjadi ruang pertemuan artistik yang mempertemukan pelaku seni pertunjukan dari berbagai negara. Kebutuhan akan percakapan internasional sekaligus proyeksi Jakarta sebagai kota global menjadi salah satu konteks yang melatarbelakangi perkembangan tersebut.

Transformasi ini sejalan dengan posisi DKJ sebagai mitra Gubernur DKI Jakarta dalam merumuskan arah kesenian dan kebudayaan Jakarta. Melalui Peraturan Gubernur No. 4 Tahun 2020 tentang Akademi Jakarta dan Dewan Kesenian Jakarta, DKJ memiliki kewenangan untuk mengembangkan kesenian Jakarta sekaligus memberikan masukan kepada Gubernur dalam kegiatan pembinaan dan pengembangan kesenian.

Dalam pengantarnya, Bambang Prihadi, Ketua Harian Dewan Kesenian Jakarta periode 2023–2026, menyampaikan bahwa DITP merupakan investasi kebudayaan jangka panjang. Menurutnya, platform tersebut dapat membangun kepercayaan, memperkuat diplomasi budaya, memperluas jejaring internasional, sekaligus menciptakan ekosistem seni yang lebih matang.

Ia juga menegaskan bahwa proyeksi Jakarta sebagai kota global tidak semata-mata dapat diukur melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui kemampuan Jakarta terlibat dalam penguatan hubungan seni dan budaya antarbangsa.

“Karena pada akhirnya, sebuah kota menjadi global bukan semata karena bangunan-bangunannya menjulang tinggi, melainkan karena kemampuannya menjadi tempat dunia saling mendengar. DITP adalah ruang di mana Jakarta mendengar dunia, dan dunia mendengar Jakarta,” tegas Bambang Prihadi dalam kata pengantarnya.

DITP 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai perhelatan seni yang hadir secara berkala, tetapi dapat menjadi ruang yang terus merawat pertemuan, pertukaran pengetahuan, dan kolaborasi antar pelaku seni pertunjukan lintas negara. Dari Jakarta, percakapan tersebut diharapkan dapat terus berkembang, mempertemukan beragam cara pandang, sekaligus memperkuat posisi ekosistem seni pertunjukan Indonesia dalam percakapan kebudayaan global.

(Malaika Putra Aryanto)