Women Against Normalizing Inequality (WANI): Pameran Kota dalam Perspektif Perempuan

Alternatif judul:

Women Against Normalizing Inequality (WANI): Perjalanan Tubuh dan Ingatan

Membaca ulang atas ruang. 16 perupa perempuan lintas generasi mengajak publik menyimak pembacaan ulang atas ruang melalui pengalaman yang dekat dan personal dalam Pameran Lab Perspektif Perempuan Perupa: Women Against Normalizing Inequality (WANI). Pameran ini dihadirkan sebagai ruang berbagi pengetahuan bagi perupa perempuan lintas generasi. 

Dalam kerangka ini, seni dipahami sebagai praktik yang berkelindan atau terkait erat dan tak terpisah dengan keseharian warga serta dinamika ruang.

“Melalui ragam medium dan pendekatan lintas generasi, WANI menghadirkan perspektif yang berpijak pada pengalaman keseharian perempuan sekaligus membuka ruang pembacaan baru terhadap struktur sosial di ruang, tak terbatas kota,” kata Anggota Komite Seni Rupa DKJ yang juga penanggung jawab Lab Perspektif Perempuan Perupa, Wina Luthfiyya Ipnayati. 

Pameran ini merupakan hasil Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta bekerja sama dengan Ikatan Alumni Fakultas Seni Rupa & Desain Institut Kesenian Jakarta (ILUSI). Pameran digelar selama satu pekan mulai dari tanggal 2-8 Maret 2026, pukul 09.00–19.00 WIB, di Galeri Cipta I & II Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat. Sementara, pembukaan akan dilaksanakan pada pukul 16.00 WIB, Minggu, 1 Maret 2026 dan terbuka untuk umum.

Perspektif tersebut dihadirkan oleh 16 perupa perempuan yang terlibat dalam pameran ini, yakni Agnes Hansella, Aharimu, Aisha Kastolan, Alodia Yap, Aulia Murid Sasongko/Menaridiawan, Bibiana Lee & Ida Ahmad, Ella Wijt, Gabrielle Maria Anna, Imelda Adams, Kartika Ekasari Murti, Marida Nasution, Rebecca Theodora, Renjani Damais-Arifin, Ressa Rizky Mutiara Hadi, dan Rotua Magdalena Pardede, dengan ILUSI sebagai kurator dan Dhianita Kusuma Pertiwi sebagai penulis pameran.

Dhianita, dalam tulisannya menjelaskan, pameran perupa perempuan ini bekerja pada dua tataran, estetik dan ideologis.

Pada tataran estetik, pameran ini menunjukkan cara-cara perupa perempuan terlibat dalam kemungkinan eksplorasi yang tak terbatas, menyoroti jalan dan tikungan yang dilalui perupa perempuan dalam mengartikulasikan observasinya atas dunia, membuktikan signifikansi dan kontribusi para perupa perempuan dalam ranah penciptaan dan pembacaan. 

“Pada tataran ideologis, pameran ini beroperasi sebagai ruang ekspresi yang selektif dan revisionis, yang memainkan peran penting dalam upaya mengoreksi narasi sejarah seni yang seksis, menggugat struktur dominan yang patriarkis,” ujar Dhianita soal Pameran Lab Perspektif Perempuan Perupa: Women Against Normalizing Inequality (WANI).

Menurut dia, dengan bekerja pada dua tataran tersebut, pameran WANI tidak sekadar menghadirkan citra, melainkan juga melantangkan suara dan menggugah rasa. 

“Wani” dalam Bahasa Jawa berarti berani. Oleh karena itu, ‘Wani’ di sini mewakili gagasan keberanian perempuan dalam menjalani, menghadapi, mengalami kehidupan kota meski seringkali tidak “memenangkannya”. 

Teks kuratorial Dhianita Kusuma Pertiwi

“Ada senyap yang perlahan tapi pasti sedang coba diretas. Ada tabir yang meski berat dan pekat sedang coba disingkap. Senyap dan tabir itu adalah pengabaian sistemik atas sosok, karya, dan pemikiran perempuan di dunia seni. Dalam hal ini, WANI, sebagai pameran yang didedikasikan untuk perupa perempuan, bekerja pada dua tataran. 

Pada tataran estetik, pameran ini menunjukkan cara-cara perupa perempuan terlibat dalam kemungkinan eksplorasi yang tak terbatas, menyoroti jalan dan tikungan yang dilalui perupa perempuan dalam mengartikulasikan observasinya atas dunia, membuktikan signifikansi dan kontribusi para perupa perempuan dalam ranah penciptaan dan pembacaan. 

Pada tataran ideologis, pameran ini beroperasi sebagai ruang ekspresi yang selektif dan revisionis, yang memainkan peran penting dalam upaya mengoreksi narasi sejarah seni yang seksis, menggugat struktur dominan yang patriarkis. 

Dengan bekerja pada dua tataran tersebut, pameran WANI tidak sekadar menghadirkan citra, melainkan melantangkan suara dan menggugah rasa. 

‘Wani’ sebagai sebuah kata mewakili gagasan keberanian perempuan dalam menjalani, menghadapi, mengalami kehidupan kota yang seringkali tidak memenangkannya. Pada saat yang sama, ‘WANI’ sebagai tajuk pameran mengungkap sikap dan aspirasi keenam belas perupa perempuan yang karyanya dihadirkan di ruang ini, yakni Women Against Normalizing Inequity—perempuan melawan normalisasi atas ketidakadilan. 

Pertemuan gagasan-gagasan tersebut termanifestasikan secara nyata dalam pameran ini melalui keragaman pada pengalaman perempuan yang diartikulasikan menjadi karya seni, pada eksplorasi material dan bentuk yang dilakukan para perupa perempuan. Juga melalui pengakuisisian ruang dengan penempatan karya-karya berukuran besar; penarasian gagasan perlawanan dalam setiap sapuan cat, jalinan benang, lekukan tatah, nyanyian nada, gerakan imaji—masing-masing dan bersama-sama menghidupkan nyala api WANI.”