Menjelang penyelenggaraan Jakarta Biennale 2026 pada Oktober mendatang, Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) bersama Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta (UPPKJ) Taman Ismail Marzuki menggelar Masterclass Pengetahuan Produksi Seni Rupa 2026.

Program yang berlangsung pada 4–7 September 2026 ini mencakup tiga kelas luring, yaitu critical writing, art writing & publishing, dan reading art.

Masterclass ini merupakan inisiatif pertama Komite Seni Rupa DKJ periode 2026–2029 yang berfokus pada pengembangan kapasitas peserta dalam membaca, menganalisis, dan menulis tentang seni rupa. Dengan melibatkan hampir 20 peserta pada masing-masing kelas, program ini ditujukan untuk memperkuat ekosistem seni rupa melalui pengembangan sumber daya manusia yang profesional, adaptif, dan kontekstual terhadap perkembangan seni rupa kontemporer.

Sebagai kurator kegiatan, Komite Seni Rupa DKJ berharap program ini dapat menjadi ruang bagi peserta dari berbagai latar belakang yang memiliki ketertarikan terhadap seni rupa. Dengan demikian, pengetahuan seni rupa tidak berhenti dalam batas-batas disiplin seni rupa murni, tetapi dapat menjangkau publik yang lebih luas serta membangun perspektif yang beragam dalam membaca praktik seni rupa kontemporer.

Saat sesi pembukaan serta pengenalan materi kelas, narasumber dan mentor yang akan mengisi kelas luring, perwakilan Komite Seni Rupa DKJ, Hilmi Faiq, menyoroti bagaimana pengalaman terhadap karya seni tidak hanya menjadi objek yang dapat dilihat, tetapi juga dapat melibatkan pengalaman langsung oleh publik. Menurutnya, praktik seni saat ini juga dapat hadir di ruang-ruang yang dekat dengan keseharian masyarakat, seperti taman, stasiun, hub transportasi, dan ruang publik lainnya.

“Seperti karya masuk ke taman, stasiun, hub transportasi, dan ruang yang dekat dengan keseharian warga. Pertimbangannya adalah ruang-ruang tersebut memiliki arus publik yang tinggi dan sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Model ini berpotensi membuat seni lebih mudah ditemukan oleh publik yang mungkin tidak datang secara khusus ke ruang seni,” ujar Hilmi.

Gagasan tersebut turut menjadi salah satu konteks penyelenggaraan masterclass yang berupaya mendekatkan pengetahuan seni rupa kepada publik di mana program ini tidak hanya membekali peserta dengan pengetahuan teoretis, tetapi juga mengajak mereka mengembangkan kemampuan membaca dan merespons praktik seni melalui proses penulisan.

Pelaksanaan masterclass dilakukan dalam bentuk pembelajaran intensif yang mencakup pemaparan materi teoretis, sharing session, diskusi dan studi kasus, workshop, hingga pendampingan penulisan. Rangkaian kegiatan berlangsung secara luring di Ruang S. Rukiah, Lantai 2 Gedung Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, serta secara daring melalui Zoom.

Setelah rangkaian masterclass selesai, peserta akan mendapatkan pendampingan penulisan. Tulisan yang dihasilkan selanjutnya akan dikurasi dan dikembangkan menjadi sebuah buku yang direncanakan diluncurkan bertepatan dengan penyelenggaraan Jakarta Biennale 2026 pada Oktober mendatang di Taman Ismail Marzuki.

Komite Seni Rupa DKJ, Berto Tukan saat memberikan sambutan hari kedua masterclass

Komite Seni Rupa DKJ, Berto Tukan saat memberikan sambutan hari kedua masterclass.

Di sisi lain perwakilan Komite Seni Rupa DKJ selanjutnya, Berto Tukan, juga menyampaikan harapannya agar peserta dapat memanfaatkan Jakarta Biennale 2026 sebagai salah satu objek pembacaan dan penulisan.

“Teman-teman setelah ini bisa melihat Jakarta Biennale sebagai bahan penulisan teman-teman. Meskipun bukan wajib, kami sangat berharap bisa menulis tentang itu,” ujar Berto.

Viandira Athia, Manajer Program Masterclass Pengetahuan Produksi Seni Rupa DKJ 2026, juga berharap program ini dapat menjadi ruang untuk memperluas pengetahuan, praktik, dan percakapan mengenai seni rupa kontemporer sekaligus mempertemukan berbagai perspektif dari publik yang memiliki ketertarikan terhadap seni rupa.

“Ya, kami ingin membangun kapasitas membaca, menganalisis, dan menulis tentang seni rupa di kalangan pelaku dan penggiat seni yang lebih luas bagi yang sudah memiliki pengalaman menulis atau belum, baik juga dari yang memiliki latar belakang di seni rupa atau tidak.” tutupnya.

Sesi foto bersama peserta Masterclass Pengetahuan Produksi Seni Rupa hari pertama

Sesi foto bersama peserta Masterclass Pengetahuan Produksi Seni Rupa hari pertama.

Program ini juga terhubung langsung dengan Jakarta Biennale 2026 melalui tema besar ‘KEBAL’, menggunakan tulisan-tulisan terbaik dari peserta. Dengan begitu, masterclass ini tidak berhenti sebagai ruang belajar, tapi juga berkontribusi langsung sebagai bagian dari produksi pengetahuan dan wacana yang menyertai Jakarta Biennale tahun ini.

Nantikan hasil tulisan peserta selengkapnya di Jakarta Biennale 2026 pada Oktober mendatang!