Empat kelompok peserta melakukan eksplorasi gerak di empat titik kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Dengan menggunakan tubuh dan ruang di sekitarnya sebagai bagian dari proses eksplorasi, setiap kelompok mengembangkan pendekatan yang berbeda di bawah arahan fasilitator.
Eksplorasi tersebut berlangsung pada 24–25 Oktober 2026 dalam Jakarta Movement Lab, salah satu rangkaian program Telisik Tari yang digagas Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).
Ketua Komite Tari DKJ, Densiel Prisma Y. Lebang, menjelaskan bahwa laboratorium ini tidak berorientasi pada penciptaan karya tari sebagai keluaran akhir. Fokusnya justru terletak pada proses eksplorasi tubuh dan ruang.
“Tari si iya, tapi bukan outputnya karya, lebih ke eksplorasi tubuh dan ruang, yang nentuin fasilitator,” ujar Densiel.
Dari Repertoar ke Ekosistem
Komite Tari DKJ pertama kali memperkenalkan Telisik Tari pada 2014 sebagai pengembangan program Maestro! Maestro! dengan pendekatan berbasis wacana. Nama “telisik” sendiri berangkat dari kata “selisik”, yang berarti mengusut atau menyelidiki dengan teliti.
Edisi perdananya, Telisik Tari DKJ: Tari Betawi ‘Topeng & Cokek’, berlangsung pada Senin dan Selasa, 8–9 Desember 2014 di Galeri Indonesia Kaya serta Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Program ini menghadirkan rangkaian rekonstruksi, seminar, kelas master, dan pertunjukan, dengan melibatkan Julianti Parani dan Rachmat Ruchiat sebagai pakar tari dan kesenian Betawi.
Melalui edisi tersebut, Komite Tari DKJ menelusuri sejarah Tari Cokek, termasuk kaitannya dengan Tari Sipatmo yang disebut sebagai asal-usulnya. Kartini Kisam, generasi ketiga keluarga penari Betawi, turut dihadirkan untuk mengajarkan Tari Cokek dalam kelas master. Saat itu, Helly Minarti, anggota Komite Tari DKJ, menjelaskan bahwa Telisik Tari juga ingin mempersoalkan penggunaan istilah “tradisi” dan “tradisional” dalam pembentukan identitas tari Indonesia.
Dua tahun kemudian, Telisik Tari mengangkat tema yang lebih luas melalui Telisik Tari 2016: Tari Melayu. Tari Melayu dipilih karena sejarah dan perkembangannya melampaui batas satu negara. Ketua Komite Tari DKJ saat itu, Hartati, menyebut tema ini sebagai pengingat bahwa banyak budaya Indonesia berakar pada budaya Melayu. Menurutnya, generasi muda kala itu cenderung memandang Melayu seolah-olah hanya menjadi milik negara tetangga.
Pada 2019, Komite Tari DKJ kembali menelusuri perjalanan genre tari melalui Telisik Tari: Ballet in Batavia. Edisi ini mengangkat sejarah masuknya balet ke Indonesia serta pengaruhnya terhadap perkembangan tari modern, tari tradisi, dan tari kontemporer.
Salah satu pembahasannya berlangsung dalam diskusi “Mengapa Ada Balet di Indonesia?” pada Jumat (6/12/2019). Penulis Taufik Darwis mencatat diskusi tersebut dalam esai Apakah Penting Mempertanyakan Adanya Balet Indonesia. Melalui cerita Engkar Kamila, yang mulai belajar balet di LPKJ (kini IKJ) sejak berusia 10 tahun, Taufik menguraikan berbagai persoalan yang melingkupi keberadaan balet di Jakarta, mulai dari ras, kelas, identitas kultural, hingga identitas nasional.
Jika tiga edisi sebelumnya banyak menyoroti sejarah dan perkembangan repertoar maupun genre tari, Telisik Tari tahun ini memperluas perhatiannya pada kondisi pelaku dan ekosistem tari Jakarta. Pergeseran fokus tersebut salah satunya terlihat melalui FGD Survei Pelaku Seni Tari yang berlangsung pada Rabu (23/9/2026) di Ruang Akademi Jakarta, Taman Ismail Marzuki.
Dalam forum tersebut, Komite Tari DKJ memetakan sejumlah persoalan yang dihadapi pelaku tari, mulai dari pendanaan, ketersediaan ruang latihan dan pentas, hingga regenerasi. Proses pemetaan ini turut melibatkan peneliti BIMA (Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian) dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Tubuh sebagai Sumber Pengetahuan
Densiel menjelaskan bahwa pemilihan nama “telisik” berangkat dari pemahaman bahwa tari tidak semata-mata hadir sebagai hiburan, tetapi juga menjadi medium produksi pengetahuan. Melalui tari, terdapat berbagai aspek yang dapat digali, mulai dari sejarah hingga pengetahuan yang tersimpan dalam tubuh manusia.
“Karena program (ini) merupakan produksi pengetahuan. Tidak sekadar hiburan, tetapi ada yang bisa digali, bisa jadi sejarah, tubuh, karena setiap tubuh punya pengetahuan masing-masing. Tidak sekadar tari yang ditonton, tetapi ada fundamentalnya lagi,” ujarnya.
Densiel kemudian mencontohkan tari tradisi yang berawal dari gestur atau gerak tubuh sebelum berkembang menjadi bentuk tarian. Menurutnya, tari memiliki beragam fungsi dalam kehidupan masyarakat, mulai dari ritual, aktivitas sosial, hingga penyambutan tamu. Namun, pemaknaan terhadap tari juga perlu mempertimbangkan pengaruh kolonialisme yang turut membentuk cara pandang terhadap praktik tari tradisi.
“Fungsi tari itu macam-macam, ada yang bagian ritual, ada yang sosial, ada yang menyambut tamu, tapi tidak bisa dipungkiri (ada) efek kolonialisme. Kadang kita perlu mengkritisi, padahal dari masyarakat tertentu, tari itu bagian dari kehidupan masing-masing, cara berkomunikasi itu juga,” katanya.
Laboratorium untuk Melatih Kepekaan
Jakarta Movement Lab yang berlangsung pada 23–25 Oktober 2026 ini dirancang sebagai ruang pemetaan partisipatif Komite Tari DKJ terhadap ekosistem tari Jakarta hari ini. Melalui kegiatan ini, mereka berupaya mendorong produksi pengetahuan, memperkuat jejaring, serta membuka ruang regenerasi yang mempertemukan pelaku tari senior dan muda, sanggar mapan, hingga kolektif baru dalam ruang belajar yang setara.
Proses tersebut juga menjadi bagian dari upaya Komite Tari DKJ dalam menghimpun materi arsip dan dokumentasi ekosistem tari Jakarta.
“Poin utamanya belajar soal kepekaan. Kalau laboratorium, seperti riset artistik, jadi meneliti di dalam sebuah kesenian, bisa dari movement research, riset spasialnya. Makanya namanya Jakarta Movement Lab, outputnya bukan ke produk karya,” jelas Ketua Komite Tari DKJ, Densiel.
Densiel juga menekankan bahwa laboratorium ini merupakan ruang pemantik bagi peserta untuk mengembangkan gagasan dan eksplorasi lebih lanjut setelah kegiatan berakhir.
“Ruangnya sebagai pemantik. Ke depannya mereka punya gagasan lain, bisa pakai metode-metode lain yang didapatkan sendiri,” tutupnya.
Jakarta Movement Lab diharapkan dapat menjadi awal bagi tumbuhnya inisiatif dan kolaborasi baru di antara para pelaku tari Jakarta. Pemetaan yang berlangsung melalui perjumpaan dan pertukaran pengetahuan ini juga diharapkan menjadi bekal bagi Komite Tari DKJ dalam merancang program berikutnya yang berangkat dari kebutuhan dan dinamika ekosistem tari Jakarta.
(Anissa Maharani/Humas DKJ)
