Komisi Arsip dan Koleksi Dewan Kesenian Jakarta bekerja sama dengan Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, dan ARTOTEL Curated Taman Ismail Marzuki, mempersembahkan Pameran Arsip dan Koleksi Dewan Kesenian Jakarta 2026 dengan tema “Kepo Kosmopo: Melampaui “Gincu Dunia Ketiga”.
Pameran ini akan dimulai pada hari Selasa, 4 Agustus 2026 di Selasar Nasar, Paviliun Raden Saleh – ARTOTEL Curated, Lantai 8 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki, dan akan dibuka pada pukul 18.30 WIB.
KEPO KOSMOPO: MELAMPAUI “GINCU DUNIA KETIGA"
Kepo sering dipahami sebagai rasa ingin tahu yang berlebihan. Dalam pameran ini, kepo justru dimaknai sebagai keberanian untuk terus bertanya, belajar, dan membangun percakapan. Dipadukan dengan kosmopo—kosmopolitanisme—merujuk pada semangat Taman Ismail Marzuki (TIM) sejak kelahirannya: sebuah ruang yang selalu ingin mengetahui dunia sekaligus memperkenalkan Indonesia kepada dunia.
Kosmopolitanisme yang tumbuh di TIM bukanlah proyek menjadi "Barat", melainkan hasil dari sejarah panjang perjumpaan. Jauh sebelum TIM berdiri pada 1968, Jakarta telah menjadi kota pelabuhan tempat berbagai bahasa, gagasan, dan praktik artistik saling bertemu. Di ruang-ruang seperti Pasar Senen dan Ancol, batas antara yang dianggap modern dan tradisional, Timur dan Barat serta politik kanan dan kiri telah lama dinegosiasikan melalui pergaulan seniman sehari-hari. Modernitas Indonesia lahir bukan dari proses meniru, melainkan dari kemampuan menerjemahkan berbagai pengaruh menjadi bentuk-bentuk artistik yang berakar pada pengalaman lokal.
Berdirinya TIM memberi semangat itu, sebuah rumah kelembagaan. Melalui program-program Dewan Kesenian Jakarta seperti pekan film, resital musik, pameran seni rupa, pertunjukan teater dan tari, hingga forum sastra internasional, Jakarta menjelma menjadi salah satu simpul penting dalam percakapan kebudayaan di Asia. Bahkan di tengah keterbatasan anggaran dan represi politik Orde Baru, pertukaran lintas budaya tidak pernah benar-benar terputus. Kolaborasi dengan berbagai negara, termasuk melalui jejaring Kerja sama Selatan–Selatan (KSS), menegaskan bahwa hubungan Indonesia dengan dunia tidak berlangsung sebagai arus satu arah dari Barat ke Timur, melainkan sebagai proses timbal balik yang dibentuk rasa saling belajar, saling memengaruhi, dan saling mencipta.
Memasuki era Reformasi, lanskap kebudayaan Indonesia menjadi semakin polisentris. Praktik kesenian tidak lagi bertumpu pada satu pusat, melainkan tumbuh dari ruangruang independen, kolektif, komunitas, dan berbagai wilayah dengan pengalaman yang beragam. Dalam lanskap baru ini, peran TIM pun bergeser: dari “pusat legitimasi” menjadi simpul yang menghubungkan jejaring praktik seni lintas wilayah, lintas generasi, dan lintas negara.
Di sinilah makna "Melampaui Gincu Dunia Ketiga" menemukan relevansinya. Frasa ini meminjam kritik yang pernah mengemuka dalam Third World Theatre Festival and Colloquy (Seoul, 1981): jangan sampai seni hanya menjadi lipstick for the Third World— kosmetik yang membuat wajah pembangunan tampak indah, tetapi tidak pernah menjadi bagian dari fondasinya. Kritik tersebut terasa semakin aktual ketika kebudayaan hari ini kerap direduksi menjadi instrumen pencitraan kota, komoditas industri kreatif, atau pelengkap ambisi menjadi global city.
Pameran ini tidak ingin meromantisir masa lalu, tetapi mengajak kita membaca kembali sejarah TIM sebagai pelajaran tentang keberanian membangun visi kebudayaan. Sejarah menunjukkan bahwa infrastruktur seni Indonesia justru dibangun ketika negeri ini menghadapi krisis ekonomi, keterbatasan sumber daya, dan ketidakpastian politik. Karena itu, pertanyaan yang diajukan pameran ini bukanlah bagaimana mengembalikan kejayaan masa lalu, melainkan bagaimana mewarisi keberanian untuk terus bersikap kepo terhadap dunia tanpa kehilangan pijakan pada pengalaman sendiri. Sebab, yang dipertaruhkan bukan hanya keberlangsungan sebuah institusi bernama Taman Ismail Marzuki, melainkan kemampuan kita membayangkan kebudayaan sebagai fondasi kehidupan bersama—ruang tempat masyarakat berpikir, berdebat, berimajinasi, dan terus menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru.
Untuk mengisi rangkaian pameran yang berlangsung selama sepuluh hari, juga akan dilaksanakan sesi diskusi publik pada tanggal 14 Agustus 2026 sekaligus menutup Pameran Arsip dan Koleksi Dewan Kesenian Jakarta 2026. Diskusi publik menghadirkan para narasumber dari lintas bidang yang akan membahas tema “Investasi untuk Seni, Investasi untuk Jakarta: Pendanaan Festival Internasional dan Masa Depan Kota Budaya.”
Pameran Arsip dan Koleksi Dewan Kesenian Jakarta 2026 akan berlangsung pada hari Selasa, 4 Agustus 2026, hingga Jumat, 14 Agustus 2026, di Selasar Nasar, Paviliun Raden Saleh – ARTOTEL Curated, Lantai 8 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki dari pukul 10.00 – 20.00 WIB. Pameran dilangsungkan dalam dua bahasa (Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris).
Mari berkunjung dan sampai bertemu di TIM!
