Menyibak Kabut Zaini” tema serial konten video sejarah yang Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pilih pada 2026 ini. DKJ melalui Komite Seni Rupa memilih sosok Zaini untuk diangkat dalam program tersebut, lantaran kontribusi dan pengaruh besar pelukis kelahiran Kurai Taji, Pariaman, Sumatra Barat itu terhadap corak lukis Indonesia.

Lewat program ini, DKJ mengajak publik kembali membaca pemikiran, jejak, dan kontribusi Zaini dalam perkembangan seni rupa Indonesia. Melihat bagaimana diskursus mengenai Zaini dan seni lukis modern Indonesia kembali dihidupkan di tengah ekosistem seni rupa kontemporer melalui dua medium, yakni penampilan konten informasi video dan pameran lukisan.

Ketua Komite Seni Rupa DKJ, Danny Yuwanda, mengatakan program ini merupakan upaya DKJ untuk menjaga ingatan kolektif terhadap sejarah seni rupa Indonesia. Lewat pembacaan terhadap Zaini, diharapkan publik dapat melakukan kajian ulang terhadap spirit Zaini dalam mengembangkan seni lukis kontemporer.

“Sebenarnya ini warisan dari Pak Zaini untuk masyarakat ya, kita bisa melihat bahwa Pak Zaini sudah berusaha untuk mengembangkan seni lukis Indonesia,” ucap Danny, saat pembukaan pameran “Menyibak Kabut Zaini”, Sabtu, 20 Juni 2026.

Dia berharap, lewat “Menyibak Kabut Zaini”, publik tidak lagi menebak isi lukisan dalam remang. Namun mencoba untuk membaca esensi dengan menyibak kabut-kabut kanvas Zaini.

Diksi ‘kabut’ dalam tema program ini sendiri, diambil dari kritik Bambang Bujono terhadap lukisan Zaini pada periode 1970-an. Bambang kala itu mengidentifikasi fenomena kabut dalam lukisan Zaini. Kritisisme Bambang Bujono tersebut yang dijadikan pintu masuk untuk mengenal Zaini dengan dinamika identitas corak kabut pada setiap kanvas lukisannya.

Tentang 3 Video dan Pameran

Ada tiga video “Menyibak Kabut Zaini” yang telah tayang pada akun Youtube DKJ @DewanKesenianJakarta, 18 Juni 2026 lalu. Dalam konten video itu, sosok Zaini dihadirkan dari beberapa perspektif yang berbeda: Bambang Bujono (rekan sejawat), Dolorosa Sinaga (murid), dan Yuzier Zaini (anak). 

Dengan melakukan pembacaan terhadap Zaini dari 3 perspektif berbeda, diharapkan publik dapat mengenal Zaini tidak hanya dari sudut pandang perupa/seniman, namun lebih personal, sebagai manusia dan kepala keluarga. 

Untuk merayakan 100 tahun kelahiran Zaini, DKJ pun menggelar pameran karya pelukis, ilustrator, dan manajer seni itu, dengan tajuk, “Menyibak Kabut”. 

Lahir pada 17 Maret 1926, Zaini belajar melukis dari beberapa nama besar, seperti S Sudjojono, Basuki Abdullah, hingga Affandi. 

Zaini ikut terlibat mendirikan DKJ pada 1968, dan menjadi bagian dari Komite Seni Rupa hingga 1977. Dia juga berkontribusi dalam perumusan kurikulum seni lukis, dan pernah menjadi pengajar di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) yang saat ini berubah nama menjadi Institut Negeri Jakarta (IKJ). Dialah orang yang mendesain logo majalah sastra dan budaya Horison sekaligus pernah menjadi salah satu redakturnya.

Pameran “Menyibak Kabut” ini mengajak publik untuk menengok kembali kiprah karya lukis Zaini kurun waktu 1948 – 1977. Pameran yang dikuratoriali oleh Ibrahim Soetomo ini dilakukan dengan metode studi karya Zaini secara fokus dan mendalam. 

Pameran karya lukis yang dihelat di Galeri Cipta I & II, Gedung Trisno Soemardjo ini tidak disajikan dalam bentuk kronologis atau sesuai dengan rentang waktu penciptaannya, melainkan dengan pengelompokan berdasarkan pokok perupaan. 

Pengelompokan lukisan berdasar pokok perupaan ini tercermin dalam penempatan karya pada area galeri. Di Galeri Cipta I, publik akan disuguhkan oleh lukisan Zaini dengan ciri perubahan palet warna dari pastel empuk menuju nuanasa kelam yang subtil.

Sedang pada Galeri Cipta II, lukisan Zaini akan didominasi oleh kekuatan garis, lewat sketsa, vinyet, dan drawing.

Ibrahim Soetomo mengatakan alasan pameran tidak disusun secara kronologis adalah agar publik dapat melihat bagaimana Zaini coba mengabtraksi pokok perupaan.

“Perjalanan ini juga memperlihatkan perjalanan mengabstraksi karya-karya Zaini” ujar Ibrahim, pada pembukaan pameran “Menyibak Kabut”, Sabtu, 20 Juni 2026.

Pameran karya akan terus berlangsung hingga 11 Juli 2026. Kunjungi Galeri Cipta I & II untuk membaca kembali perjalanan dan pengaruh Zaini dalam seni rupa Indonesia.