Sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2022:
Modernisme Chairil Anwar
(Peringatan 100 Tahun Chairil Anwar)

Latar Belakang

Muncul pada dasawarsa ketiga abad ke-20, Chairil Anwar adalah penyair yang berdiri tegas sebagai seorang avantgardis, bukan hanya ketika berhadapan dengan generasi Pujangga Baru, melainkan juga pada situasi kesusastraan di Hindia Belanda masa itu. Chairil, sambil melanjutkan Amir Hamzah, yaitu dengan mendorong kata dan frasa sebagai unit fundamental dalam puisi sejauh-jauhnya, menyatakan secara langsung atau tidak bahwa sastra bukanlah alat bagi modernisasi sosial. Sastra, dalam hal ini puisi, mengatakan apa yang rumpang dan yang sumbang dalam proses modernisasi sosial, proses yang bisa mengambil bentuk nasionalisme atau kemerdekaan nasional.

Chairil Anwar bisa dikatakan merusak konvensi bahasa Pujangga Baru dengan tenaga tersembunyi yang tidak dibaca oleh generasi ini. Ia tidak merawat konvensi sastra generasi itu, tetapi, sebaliknya, memilih—sebagaimana dikatakan A. Teeuw, sebuah “konvensi internasional” yang disadapnya melalui sajak penyair-penyair Belanda (Marsman, Slauerhoff, dan lain-lain) maupun sajak-sajak dari khazanah modern(is) di Eropa maupun Amerika Utara yang diterjemahkannya.

Modernisme artistik Chairil Anwar beririsan dengan gerakan modernisme artistik yang berlangsung di seluruh dunia yang telah mulai pada awal abad ke-20, bukan hanya dalam lapangan kesusastraan, tetapi juga khazanah seni lainnya. Adapun modenisme artistik demikian bisa mengambil dua jalan. Yang pertama, sebagai residu dari modernisasi sosial. Jika modernisasi sosial bersikap positif dan utilitarian dalam membangun masyarakat, maka modernisme artistik menyatakan apa yang tersisih, tertolak, dan tergilas oleh yang pertama. Di jalan kedua, modernisme artistik memberi bentuk kepada modernisasi sosial. Ia mengambil semangat objektif dan universal ilmu pengetahuan, membahasakannya kembali ke dalam formalisme yang bebas dari tekanan sejarah dan tradisi: mengambil puing-puing modernitas dan menjadikannya montase atau konstruksi sebagai lawan terhadap kesatupaduan pandangan dunia yang ditampilkan oleh kesenian pramodern.

Chairil Anwar menjadi semacam penyair-induk (Ur-poet) bagi para penyair yang kemudian, termasuk mereka yang berkiprah menonjol setelah 1965. Pada sajak-sajak Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohamad, misalnya, bisa ditemukan pengaruh persajakan Chairil Anwar, bahkan pada penyair generasi mutakhir semisal Dea Anugrah. Situasi modernisme ini menjadi penting untuk dibicarakan kembali, terutama untuk melihat bagaimana peran penting seorang penyair terhadap tradisi sastra yang melingkupinya, baik secara nasional maupun internasional.

Pada “peringatan” 100 tahun Chairil Anwar ini, kita menyadari bahwa “kegemaran” kita terhadap puisi Chairil Anwar tidaklah sebanding dengan telaah terhadapnya. Untuk mendorong pembacaan baru tentang Chairil Anwar, Dewan Kesenian Jakarta dengan bangga menggelar Sayembara Kritik Sastra bertema “Modernisme Chairil Anwar”.

Kriteria Penilaian Naskah

  • Kepengrajinan: sejauh mana naskah memperlihatkan sifat-sifat esai sastrawi yang memikat sekaligus bertumpu pada argumentasi yang kokoh dan bukti-bukti yang terperinci—bukan makalah akademis yang cenderung formalistik dalam bentuk dan sistematika penulisan.
  • Kebaruan: sejauh mana naskah menawarkan pemaknaan baru atas Chairil Anwar dalam kaitan dengan modernisme sastrawi.
  • Keterbacaan: sejauh mana naskah dituliskan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik sehingga dapat dimengerti dengan jelas ide-ide penulisannya.

Jenis Pembahasan yang Diharapkan

  • Sebisa mungkin adalah “close reading” (pembacaan dekat) terhadap karya Chairil Anwar: menguraikan kembali puisinya secara ketat-dekat dan secara teliti memperlihatkan rincian, serta pemaknaan atas rincian, yang selama ini terabaikan dalam pembacaan sepintas lalu.
  • Kajian yang bersifat pembacaan jauh terhadap karya Chairil Anwar, misalnya dengan menganalisisnya melalui pendekatan statistik, linguistik korpus dan humaniora digital.
  • Kajian bandingan terhadap karya Chairil Anwar, misalnya melalui perbandingan dengan puisi-puisi penyair pendahulu dan segenerasinya, di dalam dan luar negeri, untuk memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi sastra di sebuah negeri berhubungan dengan tradisi sastra yang berlangsung di dunia.
  • Kajian yang bersifat pembacaan lebar terhadap karya Chairil Anwar, misalnya dengan melihat situasi artistik dan pemikiran kesenian-kebudayaan yang berkembang saat itu. Bukan hanya pada sastra tetapi kesenian pada umumnya—yang kesemuanya berpusat pada Chairil Anwar.
  • Pembacaan yang mencoba menggunakan pendekatan tematik (aspek gender, nasionalisme, budaya kota misalnya) juga masih dimungkinkan sejauh kajian itu memberikan kebaruan dari kajian sejenis yang pernah ada.

Ketentuan Umum

  • Mengisi formulir pada tautan daring https://bit.ly/formulirsayembarakritikdkj2022 dan mengirimkannya kembali kepada panitia penyelenggara.
  • Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.
  • Naskah belum pernah dipublikasikan atau dipresentasikan dalam versi utuh.
  • Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa atau seminar.
  • Kritik harus karya asli, bukan terjemahan, saduran, atau jiplakan.

Ketentuan Khusus

  • Panjang kritik maksimal 10.000 kata, ukuran halaman A4, spasi 1,5 huruf Times New Roman, ukuran 12.
  • Peserta adalah Warga Negara Indonesia, dibuktikan dengan menyertakan tanda pengenal (KTP/SIM) di file biodata.
  • Tidak perlu membubuhkan nama penulis di dalam naskah dan salinannya. Biodata ditulis di file terpisah. Peserta tidak akan lolos seleksi administrasi jika terdapat nama penulis di dalam naskah,
  • Naskah beserta biodata dikirim via email ke dkj2022@gmail.com
    • Subject Email:
      nama lengkap_judul karya_SKSDKJ2022
      (contoh: Wirla Maharani_Konsep Pernikahan ala Chairil, Menilik Puisi Tak Sepadan_SKSDKJ2022)
    • Naskah format PDF dengan judul file:
      judul karya_SKSDKJ 2022
      (contoh: Konsep Pernikahan ala Chairil, Menilik Puisi Tak Sepadan_SKSDKJ 2022)
    • Biodata format PDF dengan judul file:
      Biodata_nama_judul karya_SKSDKJ 2022
      (contoh: Biodata_Wirla Maharani_Konsep Pernikahan ala Chairil, Menilik Puisi Tak Sepadan_SKSDKJ 2022)
    • Batas akhir pengiriman naskah: 15 Juli 2022

Lain-Lain

  • Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu-gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.
  • Pajak ditanggung pemenang.
  • Sayembara ini tertutup bagi anggota DKJ Periode 2019—2023 dan keluarga inti Dewan Juri.
  • Maklumat ini bisa diakses di dkj.or.id
  • Dewan Juri terdiri atas sastrawan dan akademisi sastra.
  • Para Pemenang akan diumumkan dalam Malam Anugerah Sayembara Sastra DKJ 2022 di Taman Ismail Marzuki pada Agustus 2022

Hadiah

  • Juara I :  Rp15.000.000,00
  • Juara II :  Rp12.500.000,00
  • Juara III :  Rp10.000.000,00
  • Lima Besar :  Rp3.000.000,00