“Akan gersang jadinya kehidupan kota ini jika rohani tidak dikembangkan. Kesenian mesti hidup, tumbuh, dan berkembang di tengah-tengah kegiatan seperti apa yang diinginkan oleh Jakarta.” Ali Sadikin, dalam buku memoar “Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1967” yang terbit tahun 1992.

Setelah satu abad kelahiran Ali Sadikin, Dewan Kesenian Jakarta bersama Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta (UPPKJ) Taman Ismail Marzuki (TIM) mencoba menghadirkan kembali sosok, pikiran, dan kontribusi pria yang karib dipanggil Bang Ali, lewat "Peringatan 100 Tahun Ali Sadikin". 

Melalui pameran arsip, aktivasi karya seni mural & instalasi, pasar seni, memorial lecture, hingga pertunjukan musik, publik diajak membaca kembali gagasan dan warisan sang mantan Gubernur Jakarta yang menjadi fondasi perkembangan ekosistem seni dan kebudayaan Jakarta hingga hari ini.

Kegiatan ini menjadi ruang refleksi untuk melihat kembali bagaimana keberanian Bang Ali dalam menempatkan kebudayaan sebagai bagian penting dari pembangunan kota. 

Momentum Merefleksikan Perjalanan TIM

Semasa menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 1966–1977, Ali Sadikin dikenal sebagai tokoh yang memberikan perhatian besar terhadap perkembangan seni dan kebudayaan. 

Bagi Ali, pembangunan tidak hanya diukur melalui infrastruktur fisik, tetapi juga melalui tumbuhnya ruang bagi kreativitas, dialog, dan kebebasan berekspresi. 

Di bawah kepemimpinannya, Dewan Kesenian Jakarta berdiri pada 1968 lewat surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor Ib.3/2/19/1968 sebagai lembaga independen yang menjadi mitra pemerintah kota Jakarta dalam merumuskan arah pengembangan kesenian. 

Masih di periode yang sama, ia juga menggagas pembangunan Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki sebagai ruang bertemunya seniman lintas disiplin, sekaligus mendorong berdirinya Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ), yang belakangan menjadi Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Bambang Prihadi, Ketua Harian Dewan Kesenian Jakarta menganggap bahwa program ini merupakan upaya untuk merefleksikan kembali kehadiran Taman Ismail Marzuki (TIM) hari ini lewat pembacaan ulang pemikiran sang penggagas, Ali Sadikin. 

Beliau juga mengajak pelbagai pihak untuk menjadikan momentum ini sebagai sarana untuk mengkaji ulang masalah tata kelola TIM, serta mengembalikan TIM pada muaranya, sebagai barometer kesenian.

Ketua Harian Dewan Kesenian Jakarta 2023–2026, Bambang Prihadi, saat menerima kunjungan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, di tempat pameran 100 Tahun Ali Sadikin.

Ketua Harian Dewan Kesenian Jakarta 2023–2026, Bambang Prihadi, saat menerima kunjungan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, di tempat pameran 100 Tahun Ali Sadikin.

Ketua Harian Dewan Kesenian Jakarta 2023–2026, Bambang Prihadi, saat menerima kunjungan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, di tempat pameran 100 Tahun Ali Sadikin. 

“Jadi momentum untuk membaca ya, bagaimana perjalanan tim yang sudah 58 tahun ini, 58 tahun ini, benar-benar harus dilihat lagi, paling tidak percakapan di ‘80-an awal itu, di mana TIM sebetulnya sudah dipertanyakan. Ya, bagaimana tata kelolanya, manajemennya, bagaimana lembaga-lembaga yang ada di sini itu menguat dan juga bersinergi, dan menjadikan tim sebagai ya barometer kesenian”, ujar Bambang pada 14 Juli 2026 di ruang Komisi Dewan Kesenian Jakarta.

Arsip dan Upaya Menengok Kembali Sosok Ali Sadikin

Salah satu program utama yang bersinggungan langsung dengan arsip-arsip Dewan Kesenian Jakarta dalam peringatan ini adalah Pameran Arsip Ali Sadikin yang menghadirkan berbagai dokumen, foto, rekaman, dan jejak sejarah mengenai kiprah Ali Sadikin dalam membangun ekosistem kebudayaan Jakarta. 

Arsip-arsip yang diriset oleh Ganda Swarna dan Panca Lintang Dyah Paramita, juga foto-foto milik Umar Widodo menghiasi dinding ruangan, dimana publik diajak melihat bagaimana semangat Ali Sadikin dalam membangun ekosistem kesenian di Jakarta, termasuk proses pembentukan Dewan Kesenian Jakarta.

Ganda Swarna, salah satu periset pameran arsip mengatakan bahwa selain untuk mengajak publik melihat warisan Ali Sadikin, tujuan pameran arsip ini ditujukan bagi para seniman dan pemangku kepentingan untuk melihat kembali dasar pembangunan TIM. 

Ia juga berharap dengan adanya pameran ini, semua pihak bisa melacak bersama, apakah semangat Ali Sadikin lewat pendirian TIM masih ada hingga hari ini.

“Makanya kenapa banyak sekali masukan arsip dari awal sampe pertengahan Ali Sadikin turun, selesai menjabat, karena untuk mungkin gak sih ini bisa dibaca ulang untuk memeriksa lagi apa sih dasar TIM ini Diciptakan, TIM ini dibuat. Mungkin dari situ tuh bisa dibaca, dilacak, untuk melihat apakah TIM ini sampe detik ini, dia itu sudah sampe mana nih melencengnya, gitu”, ucap Ganda pada 12 Juli 2026 di Galeri Oesman Effendi.

Sedangkan, Yustiansyah Lesmana, Ketua Komisi Arsip Dewan Kesenian Jakarta periode 2023 - 2026, menjelaskan bahwa arsip punya posisi penting bagi publik, dalam hal ini untuk menengok kembali semangat pendirian TIM  lewat pemikiran-pemikiran Ali Sadikin. 

“Publik bisa melihat bahwa ada fase di Jakarta, ada satu figur, Maecenas, yang begitu percaya bahwa dia nggak ngerti seni, tapi dia meminta seniman untuk kemudian menasihati dia, untuk mengatur hal-hal yang terkait sama seni, Maka yang dia bangun kan bukan cuma infrastruktur, tapi institusional. Adanya AJ, ada DKJ, IKJ, dan institusi-institusi masyarakat yang muncul setelahnya itu memperlihatkan keberpihakan dia untuk memposisikan seni dan kebudayaan sebagai satu goodwill di kota”, ujar  Yustiansyah pada 14 Juli 2026, di ruangan Komisi Arsip & Koleksi DKJ.

Sesi diskusi 100 Tahun Ali Sadikin, di Galeri Oesman Effendi 

Sesi diskusi 100 Tahun Ali Sadikin, di Galeri Oesman Effendi

Melalui rangkaian "100 Tahun Ali Sadikin", Dewan Kesenian Jakarta mengajak masyarakat untuk tidak sekadar mengenang Bang Ali sebagai tokoh sejarah, melainkan membaca kembali gagasan-gagasannya dalam konteks Jakarta hari ini.

Ketika kota terus berkembang dengan berbagai tantangan baru, semangat membangun ruang bagi seni, kebudayaan, dan kebebasan berekspresi menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kemampuannya merawat ingatan, kreativitas, dan kehidupan budaya masyarakatnya.

Pemikiran Bang Ali mengenai pentingnya ruang berkesenian, kebebasan berekspresi, dan dukungan terhadap para pelaku budaya masih terus menjadi rujukan dalam membangun kehidupan seni yang inklusif. Semangat itulah yang kembali dihidupkan melalui rangkaian program "Peringatan 100 Tahun Ali Sadikin"

(Malaika Putra Aryanto)