JAKARTA, 24 September 2026 — Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (UP PKJ TIM) bersama Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menyelenggarakan Pekan Komponis Indonesia (PKIna) 2026, 23-27 September 2026. Sebuah perhelatan yang menjadi ruang pertemuan, presentasi, pertukaran gagasan, dan distribusi pengetahuan mengenai perkembangan praktik komposisi musik di Indonesia.
Kegiatan ini mempertemukan komponis, musisi, performer, akademisi, komunitas, serta masyarakat untuk memperluas pemahaman terhadap proses penciptaan, penyajian, dan perkembangan musik Indonesia.
“Pekan Komponis Indonesia merupakan ruang untuk mempertemukan berbagai praktik dan gagasan dalam perkembangan komposisi musik Indonesia. Melalui tema ‘Tala–Talu’, kami ingin membuka ruang bagi publik untuk tidak hanya mendengarkan karya, tetapi juga memahami proses, gagasan, dan konteks yang membentuk praktik musik hari ini,” ujar Ketua Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta, Muhammad Taufik.
Mengusung tema “Tala–Talu: Listening, Remapping, Extending”, PKIna 2026 mengajak publik dan pelaku musik untuk mendengar, membaca kembali, serta memperluas potensi praktik komposisi musik. Tema tersebut menjadi landasan kuratorial untuk menghadirkan berbagai pendekatan artistik, mulai dari karya komposisi berbasis ansambel, praktik kolaborasi komponis dan performer, diskusi pengetahuan, hingga eksplorasi seni bunyi dan arsip.
“Tala–Talu” dikembangkan melalui tiga gagasan utama. Listening menjadi proses mendengar dan memahami bunyi sekaligus konteks, pengalaman, gagasan, ruang, tubuh, dan hubungan sosial yang melatarbelakangi penciptaan musik. Remapping merupakan upaya membaca kembali peta praktik komposisi musik Indonesia, termasuk hubungan antara tradisi, musik kontemporer, perkembangan generasi komponis, instrumen lokal, teknologi, dan berbagai pendekatan penciptaan. Extending diarahkan untuk memperluas kemungkinan penciptaan, pertunjukan, kolaborasi, teknologi, pengalaman ruang, dokumentasi, serta distribusi pengetahuan musik.
Rangkaian PKIna 2026 mencakup Commission Ensemble/Konser Komponis, Composer/Performer, Lecturer/Artist Talk, Fringe Event, serta Pameran Seni Bunyi dan Arsip dengan format Audio-Visual Performative Archive. Keseluruhan program dirancang untuk mempertemukan berbagai generasi komponis dan pelaku musik serta membuka kemungkinan kolaborasi antara komponis, performer, akademisi, komunitas, dan publik.
Salah satu program utama adalah Commission Ensemble/Konser Komponis, yang menjadi ruang presentasi karya musik dengan berbagai format instrumentasi dan pendekatan artistik. Program ini membuka kemungkinan karya yang menggunakan instrumen orkestra, instrumen musik lokal Nusantara, sumber bunyi elektronik, maupun berbagai bentuk ansambel.
Sementara itu, program Composer/Performer mengeksplorasi hubungan antara komponis dan performer dalam proses penciptaan maupun pertunjukan. Praktiknya dapat mencakup realtime composing, instant composing, participatory music-based performance, hingga eksplorasi tubuh, ruang, bunyi, dan interaksi antara komponis, performer, serta audiens.
PKIna 2026 juga menghadirkan Lecturer/Artist Talk sebagai ruang distribusi pengetahuan mengenai perkembangan praktik komposisi dan musik kontemporer. Beberapa topik yang dihadirkan antara lain Music in The Expanded Field, Eksistensi Komponis di Era AI/Komposisi Musik Berbasis AI, Gamelan in the Global Tune, Spasial Komposisi, serta Ketubuhan dan Lokalitas dalam Kreativitas Performans.
Pada sisi lain, Fringe Event memperluas bentuk presentasi PKIna melalui program seperti Open Performance, Spatial Immersive Performance, serta Sounds Installation. Program tersebut memberikan ruang bagi eksplorasi hubungan antara bunyi, ruang, tubuh, pengalaman audiens, serta pengalaman mendengar dan melihat melalui berbagai materi dokumentasi dan eksplorasi audio.
Salah satu bagian penting lainnya adalah Pameran Seni Bunyi dan Arsip. Program ini dikembangkan dalam format Audio-Visual Performative Archive untuk menghadirkan arsip musik Indonesia melalui pengalaman visual, audio, dan interaksi pengunjung. Materi pameran meliputi arsip visual dan dokumentasi, arsip suara (sonic archive), video score bergerak, serta sesi dengar audio spasial.
“Kegiatan ini juga diarahkan untuk memperluas pengalaman publik dalam memahami musik, baik melalui pengalaman mendengar karya, menyaksikan pertunjukan, mengikuti diskusi, maupun berinteraksi dengan dokumentasi dan arsip musik Indonesia,” kata Kepala UP PKJ TIM, Harry Sanjaya.
Melalui PKIna 2026, DKJ dan UP PKJ TIM berupaya menyediakan ruang yang memperkuat ekosistem musik Indonesia melalui penciptaan karya, presentasi, pertukaran pengetahuan, pengembangan jejaring, dokumentasi, dan pengarsipan.
